Sandal Jepit Istriku (Kisah Renungan)

Kisah ini menceritakan tentang kekhilafan seorang suami dalam memperhatikan keperluan istrinya. Sehingga sampai terlontar ucapan ‘Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?’ sesal hatiku.

Yang Membuat Istri Bahagia Bersama Suami

Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan . . .

AMIKOM pecahkan Rekor MURI

Selasa (9/2) STMIK AMIKOM Yogyakarta mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas Rekor Pemrakarsa dan Penyelenggara Pameran Karya Mahasiswa Bidang Teknologi Informasi dengan Jenis Terbanyak.

Daftar Nama-Nama Klub LPI

Liga Primer Indonesia (LPI) yang rencananya akan dihelat pada Sabtu (8/1/2011) di ikuti oleh 19 klub Indonesia. Diantara 19 klub tersebut memang ada yang awalnya . . .

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

7 April 2011

Sandal Jepit Istriku (Kisah Renungan)

Kisah ini menceritakan tentang kekhilafan seorang suami dalam memperhatikan keperluan istrinya. Sehingga sampai terlontar ucapan ‘Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?’ sesal hatiku.
Sandal Jepit Istriku
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan.
‘Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan… kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!’ Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.
‘Sabar bi…, rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah.
Katanya mau kayak Rasul…? ‘ ucap isteriku kalem.
‘Iya… tapi abi kann manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!’ Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak. Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku.
Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling.
Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak [pecah].
Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini.
Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.
‘Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?’ ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. ‘Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?’ Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu.
‘Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,’ batinku berkata dalam hati.
‘Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,’ bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. ‘Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus.
‘Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa.
Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah?muntah terus,
ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,’ ucap isteriku diselingi isak tangis. ‘Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…’ Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
‘Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?’ pinta isteriku.
‘Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?’ ucapku.
‘Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,’ jawab isteriku.
‘Lho, kok bilang gitu…?’
‘Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak? Desakan dalam dengan suasana
panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa? kenapa,’ ucap isteriku
lagi.
‘Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,’ jawabku ringan.
Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji.
Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu.
Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal.
‘Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,’ aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal
jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh.
‘Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?’ Tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.
‘Maafkan aku Maryam,’ pinta hatiku. ‘Krek…,’ suara pintu terdengar dibuka.
Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain.
Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Peantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. ‘Ini dia mujahidahku!’ pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja.
Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam?diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.
Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi.
Padahal Rasul telah berkata: ‘Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.’ Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!
‘Maryam…!’ panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini.
Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum
bahagia.
‘Abi…!’ bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. ‘Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?’ sesal hatiku.
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya.
‘Alhamdulillah, jazakallahu…,’ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu?
Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?
*****Ei thea*****
Ditulis Oleh Adi Susmono

http://www.imsa.us/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=50
http://ayonikah.net 

24 Maret 2011

Pilihlah karena Agamanya ( Kisah Renungan )

Perasaan bahagia menyelimuti hati Faizul Haq-bukan nama sebenarnya.
Kebahagiaan yang sulit untuk ia lukiskan. Barangkali, hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita. Hari dimana ia telah dipertemukan dengan dambaan hati, ‘buruan’ cinta.
Senyum mengembang di langit wajahnya.
Bahkan air mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang
rindu akan belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah,
demi menyelamatkan iman, agama dan hatinya.

Mesjid Assalam di Kairo menjadi saksi bisu akad nikah dan walîmatul
‘urs Faizul Haq dengan Sabira Husna-bukan nama sebenarnya. Hari dimana
dua makhluk Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam
mistsiqan ghalizhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do’a dari hati yang tulus kami persembahkan, “Bakarakallahu laka, wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakum Fi khairin.” Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.
Faiz telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan
diridhai Allah. Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan
ketentraman jiwa. Berbeda dengan mereka yang menempuh jalan menyimpang. Jalan orang-orang yang hatinya telah dikotori oleh kotoran setan dan nafsu. Orang-orang tertipu yang memilih kesenangan sesaat. Jalan
laki-laki yang pengecut, pengumbar hawa nafsu dan jalan wanita-wanita
yang bodoh, yang suka mengobral dan menjual kemuliaan diri.
Tidak dipungkiri, Faizul Haq telah merancang dari jauh hari
bagaimana ia menyiapkan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana
ia menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan. Mulai dari ilmu,
mental, finansial, dan kesehatan fisik. Barangkali keinginan menikah
telah menjadi humum Faiz sejak beberapa tahun kebelakang, sebagaimana
yang juga bergejolak dalam hati banyak anak muda. Kerinduan yang tak
lagi tertahankan untuk berjumpa sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan
untuk bisa memadu hati, menumpahkan segala keluh-kesah dan gelora jiwa.
***
Setiap laki-laki yang soleh mendambakan seorang istri yang solehah.
Istri yang ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia
patuh, ketika ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika
salah ia mau diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan
dunia.
Ia ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir
akan dibesarkan, dididik dan dibina. Bijak dan tepat memilih calon
istri sebelum menikah adalah diantara faktor kebahagiaan rumah tangga.
Salah dalam memilih akan berisiko dikemudian hari. Dengan demikian,
jangan tergesa-gesa menentukan pilihan, tapi kalau sudah nampak yang
cocok dengan persepsi dan keinginan hendaknya segera mengajukan
lamaran. Karena biasanya sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi
menjadi rebutan banyak orang..
Istri solehah akan selalu menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang
ketika gelisah melanda jiwa, tempat berbagi ketika resah menghimpit
hati. Istri solihah bukanlah tipe wanita materialistis, yang ketika ada
uang, abang disayang, nggak ada uang abang jangan pulang atau piring
melayang. Sabar disaat kesulitan melanda, qana`ah dengan apa yang ada
dan bersyukur ketika mendapat kelebihan rezki. Bagi seorang istri
solihah keridhaan suami adalah diatas segalanya, walau ia harus melawan
keinginannya.
Hidupnya seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah
dan ketaatan pada Allah Swt. Istri solehah adalah ibarat taman indah
nan penuh pesona. Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan
tingkah lakunya.
Istri solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian
lembutnya, rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya,
rindu pada wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada
kata-katanya yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila
jarak telah memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu.
Karena cinta yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan
kebaikan dan kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan
Rasulullah Saw. bahwa memilih wanita solehah akan membahagiakan
seseorang di dunia dan di akhirat.
Untuk calon suami, pilihlah seorang calon istri yang telah dikenal
baik akhlak dan agamanya. Utamakanlah itu atas segalanya. Dan jangan
lupa untuk juga mempersiapkan diri menjadi seorang suami yang soleh.
Dan bagi seorang calon istri, bila datang seorang laki-laki yang Anda
kenal baik agama dan akhlaknya dan Anda memang telah siap untuk
menikah, janganlah menolak, tapi terimalah niat baiknya dengan hati
yang terbuka. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri Anda menjadi
bidadari baginya di dunia dan di akhirat.
Istri solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi
yang tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang
dikaruniai seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan
ketaatan. Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita
mulia.
Aa Gym pernah berkata, “Istri solehah adalah sebaik-baik keindahan,
kata-katanya menyejukkan kalbu, ia bagaikan bidadari surga yang hadir
di dunia. Ia adalah istri yang meneguhkan jihad suami, penebar rahmat
bagi rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat.”
Beberapa orang pernah datang kepada saya, curhat tentang keinginan
mereka untuk menikah. Yang datang pun bervariasi, dengan berbagai
permasalahan yang mereka miliki.
Setiap yang datang selalu saya berikan dorongan untuk tidak ragu melangkah ketika melihat diri telah siap. Siap yang tidak saya artikan sebatas modal kemauan, namun konkritnya
ada bekal yang telah dimiliki untuk membina rumah tangga. Juga melihat
kesiapan dengan kejernihan hati dan pikiran, bukan dengan kacamata
nafsu dan setan.
Harus ada kesadaran yang penuh ketika merespon dorongan-dorongan yang muncul dalam hati.
Fakta telah banyak berbicara, tentang orang-orang yang menikah hanya
untuk melampiaskan hasrat nafsu yang tak lagi bisa ditahan. Apa yang
terjadi adalah, hubungan yang tidak pernah harmonis dan sering terjadi
cekcok antara suami-istri hanya disebabkan permasalahan sepele. Karena
masih didominasi oleh sikap kekanak-kanakan dan sikap yang cenderung
egois, emosian, sentiment dan penuh curiga.
Ketika seseorang ingin ikut serta dalam sebuah perlombaan, kesiapan
yang ia miliki menjadi tolak ukur kesuksesannya. Jika ia mempersiapkan
diri dengan matang, peluang untuk menang akan terbuka dihadapannya.
Tapi ketika persiapan yang ia miliki apa adanya, maka hasilnyapun akan
jauh dari yang diharapkan. Tidak hanya dalam perlombaan, tapi dalam
setiap dimensi kehidupan yang kita jalani, adanya kesiapan sangat
menentukan kesuksesan kita.
Pernikahan tidak hanya semata hubungan biologis, kalau kita memaknai
demikian, tentu tidak berbeda cara pandang kita dengan hewan. Namun
dengan menikah ada nilai-nilai yang ingin kita raih, ada tugas, amanah
dan kewajiban yang harus ditunaikan dan dipertanggung jawabkan. Ibarat
kita ingin mendirikan sebuah gedung diatas sebidang tanah. Ketika
pondasi yang dibangun kuat, pondasi akan tetap kokoh dan gedung tidak
akan runtuh. Sedangkan bila pondasi lemah, besar kemungkinan gedung
tidak akan bertahan lama dan akan cepat roboh.
Pada intinya, kita perlu mempersiapkan diri, dan itu sudah menjadi
keharusan. Siapkan ilmunya, mental, kesehatan dan finansial. Dan yang
paling utama kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah Swt..
Kita harus terus berupaya untuk meraih kedudukan taqwa. Dengan
ketaqwaan segala kesulitan akan menemukan jalan keluarnya.
Allah Swt. telah menjanjikan, bahwa barang siapa yang bertaqwa maka Allah Swt. akan memberinya jalan keluar terhadap kesulitan yang ia hadapi dan
memberinya rezki dari arah yang tidak ia duga.
Dari sekarang, binalah hubungan yang baik dengan Allah Swt. dan
dengan orang lain. Latihlah diri Anda dalam ketaatan, gemar berbuat
kebaikan dan rajin beribadah. Latihlah diri Anda dengan perilaku yang
mulia sehingga ia menjadi kebiasaan Anda. Dan bila diri Anda telah
siap, maka melangkahlah dengan yakin. Adanya kekurangan ekonomi
janganlah jadikan penghalang utama. Anda harus yakin rezki setiap hamba
telah ditentukan kadarnya oleh Allah Swt. Bukankah itu suatu hal yang
menggembirakan. Anda tidak perlu merasa susah, tinggal Anda berusaha
untuk menjemput rezki itu.
Dan terakhir, jangan salah pilih, jangan tertipu dengan penampilan
luar, pilihlah dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan memilih
dengan landasan nafsu dan bisikan setan. Utamakanlah agama diatas
segalanya, dengan demikian kita akan bahagia sebagaimana yang
dijanjikan oleh Rasulullah Saw.
Jadi, jangan tunda lagi kalau Anda sudah siap, bersegeralah …!
dikutip dari: ayonikah.net

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More